Definisi Komunikasi Lintas Budaya
1. Sebutan KLB (cross culture) sering digunakan untuk menyebut makna KAB
(interculture), tanpa dibatasi konteks geogafis, ras dan etnik. Karenanya, KLB
didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang memprioritaskan relativitas
kegiatan kebudayaan. KLB umumnya lebih terfokus pada hubungan antar
bangsa tanpa harus membentuk kultur baru sebagaimana yang terjadi dalam
KAB (Purwasito, 2003)
2. Menurut Fiber Luce (1991) hakikat studi lintas budaya adalah studi komparatif yang bertujuan membandingkan : (1) variabel budaya tertentu, (2)
konsekuensi atau akibat dari pengaruh kebudayaan, dari dua konteks
kebudayaan atau lebih. Harapannya dengan studi ini, setiap orang akan
memahami kebudayaannya sendiri dan mengakui bahwa ada isu kebudyaan
yang dominan yang dimiliki orang lain dalam relasi antarbudaya. Artinya KAB
dapat dilakukan kalau kita mengetahui kebudayaan kita dan kebudayaan
orang lain.
3. KLB adalah proses komunikasi untuk membandingkan dua kebudayaan atau
lebih melalui sebuah survey lintas budaya (www.dictionary.com)
4. KLB menurut Williams (1966) dalam Samovar dan Porter (1976) berkisar pada
perbandingan perilaku KAB dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan :
(1) persepsi dari pengalaman, peran lingkungan sosial dan fisik, (2) kognisi
terdiri unsure-unsur khusus kebudayaan, proses bahasa dan cara berpikir, (3)
sosialisasi dan (4) kepribadian seperti tipe-tipe budaya pribadi yang
mempengaruhi etos, tipologi karakter atau watak bangsa.
Perbandingan KLB dan KAB
Kesamaan :
• Keduanya menjadikan kebudayaan sebagai varian besar kajiannya
• Keduanya memusatkan perhatian pada komunikasi antarpersonal
Perbedaan :
• KLB menekankan perbandingan
• KLB mempelajari efek media (perbandingan efek media dengan efek media yang
lain)
• KAB menekankan interaksi antarpribadi yang berbeda latar belakang
kebudayaan
• KAB mempelajari komunikasi dan hubungan internasional juga
KARAKTERISTIK BUDAYA
1. Komunikasi dan bahasa
Sistem komunikasi, verbal dan non- verbal, satu unsur yang membedakan satu
kelompok dengan kelompok lainnya. Ada sekitar 15 bahasa utama atau lebih dan tiap –tiapnya terdapat dialek, logat, jargon dan ragam lainnya. Belum lagi gerak gerik bahasa tubuh yang mingkin universal namun beda makna secara lokal atau kultural.
2. Pakaian dan penampilan
Meliputi pakaian, perhiasan dan dandanan. Pakaian ini akan menjadi ciri yang
menandakan seseorang berasal dari daerah mana. Atau ciri lukisan pada muka dan
badan orang Papua atau orang Indian yang ada saat akan berperang menandakan
keberanian.
3. Makanan dan kebiasaan makan
Ciri ini menyangkut hal dalam pemilihan, penyajian, dan cara makan. Dilarangnya
seorang muslim untuk mengkonsumsi daging babi, tidak berlaku bagi mereka orang
Cina. Orang Sunda terkesan senang makan tanpa alat sendok (tangan saja) akan terlihat kurang sopan bagi mereka orang – orang barat.
4. Waktu dan kesadaran akan waktu
Hal ini menyangkut pandangan orang akan waktu. Sebagian orang tepat waktu
dan sebagian lain berpandangan merelatifkan waktu. Ada orang yang tidak
mempedulikan jam atau menit tapi hanya menandai waktunya dengan saat matahari
terbit atau saat matahari terbenam saja
5 Penghargaan dan Pengakuan
Suatu cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan
metode memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama
pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
6 Hubungan-Hubungan
Budaya juga mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan
organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan,
kekuasaan, dan kebijaksanaan.
7 Nilai dan Norma
Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma
perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan
berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau
kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya
hingga kebebasan wanita secara total.
8 Rasa Diri dan Ruang
Kenyamanan yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda
oleh masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal,
sementara budaya lainnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat
tertutup dan menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-
budaya lain lebih terbuka dan berubah.
9 Proses mental dan belajar
Beberapa budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya
sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara
orang-orang berpikir dan belajar.
10 Kepercayaan dan sikap
Semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang
jelas dalam agama-agama dan praktik keagamaan atau kepercayaan mereka.
ISTILAH BUDAYA YANG PENTING
Untuk membantu memahami perbedaan budaya perlu untuk memperhatikan
hal-hal berikut :
a. Subkultur atau mikrokultur
Dalam masyarakat besar terdapat suatu budaya besar yang dominan yang sama, dan terdapat di dalamnya sub-kelompok yang punya ciri yang berbeda dengan sub lainnya. Hal ini diklasifikasikan berdasarkan usia, kelas sosial, jenis kelamin, ras atau
entitas pembeda lainnya.
b. Unsur universal dan keanekaragaman
Unsur universal ini bersifat umum yang mengedepankan persamaan di
antaranya. Misal saja usia. Keanekaragaman memperlihatkan sifat yang lebih khusus
karena mengedepankan nilai perbedaannya. Misal, jenis kelamin.
c. Perilaku rasional, irrasional, nonrasional
Perilaku rasional adalah apa yang dianggap orang masuk akal untuk mencapai
tujuan-tujuannya. Perilaku irrasional menyimpang dari norma masyarakat dan
bersumber dari frustasi dalam memuaskan kebutuhannya, tanpa logika dan
mengedepankan respon emosional. Perilaku nonrasional tidak berdasarkan logika, tidak juga bertentangan dengan ekspektasi yang masuk akal (dipengaruhi budaya atau subkultural orang lain). Kita tidak sadar mengapa melakukan, mempercayai dan
berprasangka menurut pandangan orang di luar budaya sendiri.
d. Tradisi
Suatu hal yang dapat diekspresikan dalam kebiasaan tak tertulis, pantangan dan sanksi-sanksi. Dan ini yang mempengaruhi akan perilaku dan prosedur suatu budaya.
e. Keunikan budaya
Menghargai keunikan dari suatu budaya lain yang asing adalah suatu hal penting. Tetap berkomunikasi dan menghormati budaya yang beda ini tidak membuat
kita dituduh etnoenstrik. Maka untuk memahami perbedaan – perbedaan budaya secara lebih efektif, langkah pertama yang harus ditempuh adalah meningkatkan kesadaran budaya seseorang secara umum. Setiap orang harus memahami konsep budaya dan ciri-cirinya sebelum ia memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya dari studi tentang aspek-aspek khusus budaya asing
ALASAN MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan
karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara
berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada
pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi
kita dengan orang lain selalu mengandung potensi Komunikasi Lintas Budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.
Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal,
setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak
nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antaretnis.
Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-
kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak
mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip
Komunikasi Lintas Budaya dan mempraktikkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Kebutuhan untuk mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini semakin terasakan
karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya
yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan
berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota), latar belakang
pendidikan, dan sebagainya.
Alasan Mempelajari KLB:
1. Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya
sangat diperlukan.
2. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya
tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
3. Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
4. Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
5. Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.
6. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk
mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
7. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang
lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi,
perasaan dan masalah manusia.
8. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu
usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam
pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus
kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
9. Pengalaman-pengalaman antar budaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan
kepribadian.
10. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.
11. Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam
komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah
menyusahkan atau memudahkan.
TUJUAN MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
untuk:
1. Menyadari bias budaya sendiri
2. Lebih peka secara budaya
3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri
5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu
menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan
memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya
8.Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara
memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai,
kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi
bidang komunikasi antar budaya.
10. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat
dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.
MEMAHAMI DAN MENDEFINISIKAN KOMUNIKASI DAN BUDAYA
Komunikasi Lintas Budaya terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya yang lain. Oleh karena itu, sebelum membicarakan Komunikasi Lintas Budaya lebih lanjut kita akan membahas konsep komunikasi dan budaya dan hubungan di antara keduanya terlebih dahulu.
Pembicaraan tentang komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi
dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia- manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Dan proses berkomunikasi itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin tidak dilakukan oleh seseorang karena setiap perilaku seseorang memiliki potensi komunikasi.
Proses komunikasi melibatkan unsur-unsur sumber (komunikator), Pesan, media, penerima dan efek. Disamping itu proses komunikasi juga merupakan sebuah proses
yang sifatnya dinamik, terus berlangsung dan selalu berubah, dan interaktif, yaitu
terjadi antara sumber dan penerima. Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu budaya.
Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkanminat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok (Mulyana, 1996:18).
Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi yang berkembang