ke’pean KLB

April 3, 2009

Definisi Komunikasi Lintas Budaya

1. Sebutan KLB (cross culture) sering digunakan untuk menyebut makna KAB

(interculture), tanpa dibatasi konteks geogafis, ras dan etnik. Karenanya, KLB

didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang memprioritaskan relativitas

kegiatan kebudayaan. KLB umumnya lebih terfokus pada hubungan antar

bangsa tanpa harus membentuk kultur baru sebagaimana yang terjadi dalam

KAB (Purwasito, 2003)

2. Menurut Fiber Luce (1991) hakikat studi lintas budaya adalah studi komparatif yang bertujuan membandingkan : (1) variabel budaya tertentu, (2)

konsekuensi atau akibat dari pengaruh kebudayaan, dari dua konteks

kebudayaan atau lebih. Harapannya dengan studi ini, setiap orang akan

memahami kebudayaannya sendiri dan mengakui bahwa ada isu kebudyaan

yang dominan yang dimiliki orang lain dalam relasi antarbudaya. Artinya KAB

dapat dilakukan kalau kita mengetahui kebudayaan kita dan kebudayaan

orang lain.

3. KLB adalah proses komunikasi untuk membandingkan dua kebudayaan atau

lebih melalui sebuah survey lintas budaya (www.dictionary.com)

4. KLB menurut Williams (1966) dalam Samovar dan Porter (1976) berkisar pada

perbandingan perilaku KAB dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan :

(1) persepsi dari pengalaman, peran lingkungan sosial dan fisik, (2) kognisi

terdiri unsure-unsur khusus kebudayaan, proses bahasa dan cara berpikir, (3)

sosialisasi dan (4) kepribadian seperti tipe-tipe budaya pribadi yang

mempengaruhi etos, tipologi karakter atau watak bangsa.

Perbandingan KLB dan KAB

Kesamaan :

• Keduanya menjadikan kebudayaan sebagai varian besar kajiannya

• Keduanya memusatkan perhatian pada komunikasi antarpersonal

Perbedaan :

• KLB menekankan perbandingan

• KLB mempelajari efek media (perbandingan efek media dengan efek media yang

lain)

• KAB menekankan interaksi antarpribadi yang berbeda latar belakang

kebudayaan

• KAB mempelajari komunikasi dan hubungan internasional juga

KARAKTERISTIK BUDAYA

1. Komunikasi dan bahasa

Sistem komunikasi, verbal dan non- verbal, satu unsur yang membedakan satu

kelompok dengan kelompok lainnya. Ada sekitar 15 bahasa utama atau lebih dan tiap –tiapnya terdapat dialek, logat, jargon dan ragam lainnya. Belum lagi gerak gerik bahasa tubuh yang mingkin universal namun beda makna secara lokal atau kultural.

2. Pakaian dan penampilan

Meliputi pakaian, perhiasan dan dandanan. Pakaian ini akan menjadi ciri yang

menandakan seseorang berasal dari daerah mana. Atau ciri lukisan pada muka dan

badan orang Papua atau orang Indian yang ada saat akan berperang menandakan

keberanian.

3. Makanan dan kebiasaan makan

Ciri ini menyangkut hal dalam pemilihan, penyajian, dan cara makan. Dilarangnya

seorang muslim untuk mengkonsumsi daging babi, tidak berlaku bagi mereka orang

Cina. Orang Sunda terkesan senang makan tanpa alat sendok (tangan saja) akan terlihat kurang sopan bagi mereka orang – orang barat.

4. Waktu dan kesadaran akan waktu

Hal ini menyangkut pandangan orang akan waktu. Sebagian orang tepat waktu

dan sebagian lain berpandangan merelatifkan waktu. Ada orang yang tidak

mempedulikan jam atau menit tapi hanya menandai waktunya dengan saat matahari

terbit atau saat matahari terbenam saja

5 Penghargaan dan Pengakuan

Suatu cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan

metode memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama

pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.

6 Hubungan-Hubungan

Budaya juga mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan

organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan,

kekuasaan, dan kebijaksanaan.

7 Nilai dan Norma

Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma

perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan

berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau

kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya

hingga kebebasan wanita secara total.

8 Rasa Diri dan Ruang

Kenyamanan yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda

oleh masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal,

sementara budaya lainnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat

tertutup dan menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-

budaya lain lebih terbuka dan berubah.

9 Proses mental dan belajar

Beberapa budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya

sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara

orang-orang berpikir dan belajar.

10 Kepercayaan dan sikap

Semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang

jelas dalam agama-agama dan praktik keagamaan atau kepercayaan mereka.

ISTILAH BUDAYA YANG PENTING

Untuk membantu memahami perbedaan budaya perlu untuk memperhatikan

hal-hal berikut :

a. Subkultur atau mikrokultur

Dalam masyarakat besar terdapat suatu budaya besar yang dominan yang sama, dan terdapat di dalamnya sub-kelompok yang punya ciri yang berbeda dengan sub lainnya. Hal ini diklasifikasikan berdasarkan usia, kelas sosial, jenis kelamin, ras atau

entitas pembeda lainnya.

b. Unsur universal dan keanekaragaman

Unsur universal ini bersifat umum yang mengedepankan persamaan di

antaranya. Misal saja usia. Keanekaragaman memperlihatkan sifat yang lebih khusus

karena mengedepankan nilai perbedaannya. Misal, jenis kelamin.

c. Perilaku rasional, irrasional, nonrasional

Perilaku rasional adalah apa yang dianggap orang masuk akal untuk mencapai

tujuan-tujuannya. Perilaku irrasional menyimpang dari norma masyarakat dan

bersumber dari frustasi dalam memuaskan kebutuhannya, tanpa logika dan

mengedepankan respon emosional. Perilaku nonrasional tidak berdasarkan logika, tidak juga bertentangan dengan ekspektasi yang masuk akal (dipengaruhi budaya atau subkultural orang lain). Kita tidak sadar mengapa melakukan, mempercayai dan

berprasangka menurut pandangan orang di luar budaya sendiri.

d. Tradisi

Suatu hal yang dapat diekspresikan dalam kebiasaan tak tertulis, pantangan dan sanksi-sanksi. Dan ini yang mempengaruhi akan perilaku dan prosedur suatu budaya.

e. Keunikan budaya

Menghargai keunikan dari suatu budaya lain yang asing adalah suatu hal penting. Tetap berkomunikasi dan menghormati budaya yang beda ini tidak membuat

kita dituduh etnoenstrik. Maka untuk memahami perbedaan – perbedaan budaya secara lebih efektif, langkah pertama yang harus ditempuh adalah meningkatkan kesadaran budaya seseorang secara umum. Setiap orang harus memahami konsep budaya dan ciri-cirinya sebelum ia memperoleh manfaat yang sebaik-baiknya dari studi tentang aspek-aspek khusus budaya asing

ALASAN MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan

karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara

berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada

pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi

kita dengan orang lain selalu mengandung potensi Komunikasi Lintas Budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.

Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal,

setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak

nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antaretnis.

Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-

kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak

mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip

Komunikasi Lintas Budaya dan mempraktikkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Kebutuhan untuk mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini semakin terasakan

karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya

yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan

berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota), latar belakang

pendidikan, dan sebagainya.

Alasan Mempelajari KLB:

1. Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya

sangat diperlukan.

2. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya

tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.

3. Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.

4. Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.

5. Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.

6. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk

mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.

7. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang

lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi,

perasaan dan masalah manusia.

8. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu

usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam

pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus

kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.

9. Pengalaman-pengalaman antar budaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan

kepribadian.

10. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.

11. Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam

komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah

menyusahkan atau memudahkan.

TUJUAN MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

untuk:

1. Menyadari bias budaya sendiri

2. Lebih peka secara budaya

3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.

4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri

5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang

6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu

menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.

7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan

memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya

8.Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara

memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai,

kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.

9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi

bidang komunikasi antar budaya.

10. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat

dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

MEMAHAMI DAN MENDEFINISIKAN KOMUNIKASI DAN BUDAYA

Komunikasi Lintas Budaya terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya yang lain. Oleh karena itu, sebelum membicarakan Komunikasi Lintas Budaya lebih lanjut kita akan membahas konsep komunikasi dan budaya dan hubungan di antara keduanya terlebih dahulu.

Pembicaraan tentang komunikasi akan diawali dengan asumsi bahwa komunikasi berhubungan dengan kebutuhan manusia dan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi

dengan manusia-manusia lainnya. Kebutuhan berhubungan sosial ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia- manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Dan proses berkomunikasi itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin tidak dilakukan oleh seseorang karena setiap perilaku seseorang memiliki potensi komunikasi.

Proses komunikasi melibatkan unsur-unsur sumber (komunikator), Pesan, media, penerima dan efek. Disamping itu proses komunikasi juga merupakan sebuah proses

yang sifatnya dinamik, terus berlangsung dan selalu berubah, dan interaktif, yaitu

terjadi antara sumber dan penerima. Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu budaya.

Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkanminat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok (Mulyana, 1996:18).

Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi yang berkembang

Hello world!

April 3, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.